International Humanitarian – Membaca adalah keterampilan dasar yang memungkinkan anak-anak mengakses dunia, tanpa bisa membaca, peluang hidup mereka semakin tertutup. Pandemi COVID-19 tidak hanya memperburuk situasi ekonomi dunia, tetapi juga memperburuk pendidikan dan tingkat literasi anak-anak.

Lebih dari 393 juta anak telah gagal memperoleh keterampilan literasi dasar pada usia 10 tahun sejak tahun 2015.

Pakar pendidikan melakukan penelitian dan hasilnya terdapat peningkatan jumlah anak yang tidak dapat membaca dan memahami kalimat sederhana pada usia 10 tahun. Semuanya itu berdasarkan perhitungan resmi dari World Bank, UNESCO, dan data populasi PBB dari semua anak usia 10 tahun,

Salah satu lembaga yang meneliti juga Tracker menemukan bahwa hampir 6 juta anak berusia 10 tahun setiap bulan tidak memperoleh keterampilan literasi dasar.

Tom Hart, CEO dari ONE Campaign, menyatakan bahwa data tersebut bukti bahwa para pemimpin dunia gagal untuk melindungi dan memprioritaskan pendidikan anak-anak.

Semakin banyak anak yang tidak bisa membaca, akan mempengaruhi masa depan generasi dunia, dokter, guru, polisi, dan profesi lain akan semakin berkurang.

Kemudian, Alice Albright, CEO Kemitraan Global untuk Pendidikan, berkata bahwa belajar membaca dan menulis adalah fondasi penting bagi setiap anak untuk sukses. Data yang kita miliki menunjukkan adanya krisis pembelajaran global dan bukti bahwa dunia tidak memprioritaskan pendidikan untuk anak-anak di dunia.

Selanjutnya, Save the Children International juga turut buka suara. Dunia sedang menghadapi keadaan darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang telah diperburuk oleh pandemi COVID-19.

Jika kita ingin memenuhi komitmen kita untuk mencapai berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan dalam hal hak anak atas pendidikan, maka kita harus meningkatkan tingkat melek huruf. Hal ini khususnya bagi anak-anak di beberapa negara termiskin dan terpengaruh oleh konflik.

Perubahan pastinya tidak bisa dilakukan satu pihak saja. Maka dari itu Save The Children sangat membutuhkan bantuan seluruh pemerintah di dunia untuk memprioritaskan penanganan krisis pembelajaran untuk menjamin masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dunia.