International Humanitarian – Konflik di Tigray yang memuncak pada 4 November 2020 berdampak sangat buruk bagi anak-anak.

Ribuan anak saat ini terpisah dari orang tua mereka akibat konflik di Tigray, Ethiopia.

Di seluruh wilayah Tigray, lebih dari 1,7 juta anak-anak dan orang dewasa mengungsi akibat konflik dan membutuhkan bantuan makanan, kesehatan, tempat tinggal, air bersih, bantuan kesehatan mental.

Menurut data PBB, terdapat 4.056 anak yang terpisah dengan orang tuanya, dan 917 anak tidak memiliki pendamping sejak 6 bulan terjadi konflik di sana.

Anak-anak juga telah putus sekolah selama berbulan-bulan, dan kecil kemungkinan mereka bisa kembali melanjutkan sekolah.

Selain itu, fasilitas kesehatan rusak, tenaga medis dan obat-obatan sangat terbatas, sehingga anak-anak yang mengalami kekerasan kurang dapat dijangkau.

Save the Children sangat prihatin melihat kondisi ini. Anak-anak jauh dari kata sejahtera dan keamanan fisik mereka sangat rentan. Tantangan mereka tidak hanya hidup sendiri, tetapi juga bagaimana mereka mencukupi kebutuhan pokok sehari-hari, seperti makanan, air, pakaian, dan tempat tinggal.

Sekarang anak-anak ada yang tinggal dalam 1 kamar berisi 50 orang. Situasi ini diperburuk dengan meningkatnya kekerasan fisik dan seksual yang dialami mereka.

Sejak konflik dimulai, kekerasan seksual terhadap anak perempuan dan perempuan – bahkan perempuan hamil dan lanjut usia – telah meningkat.

Dalam dua bulan terakhir, lebih dari 950 anak perempuan dan perempuan telah melaporkan bahwa mereka telah diperkosa. Itu baru mereka yang melaporkan, masih banyak wanita yang tidak berani melaporkan kekerasan seksual yang mereka alami.

Berikut cerita dari salah satu masyarakat di sana :

Atsede

Atsede sudah terpisah dari suami dan empat anaknya sejak orang-orang bersenjata menyerang desa mereka di Tigray.

Dikabarkan Atsede dan 34 wanita lain telah diperkosa, dan pada saat itu Atsede sedang hamil 5 bulan.

Dia menunggu suaminya. Beberapa orang mengatakan suaminya berada di Sudan. Namun beberapa ada yang mengatakan suaminya sudah terbunuh.

Save the Children untuk Tigray menyatakan bahwa :

“Keluarga yang terpecah karena konflik sangat menderita, baik secara psikologis maupun fisik. Anak-anak yang terpisah dari orang tuanya sering mengatakan bahwa mereka takut.”

Save the Children telah memberikan bantuan untuk anak-anak di Tigray dengan memberikan tempat dan perlindungan layaknya keluarga asuh.

Ruang Ramah Anak juga didirikan oleh Save The Children supaya anak-anak dapat belajar dan bermain serta membangun keterampilan dan ketahanan.

Terakhir, Save the Children juga bekerja sama dengan berbagai pihak untuk melacak orang tua yang mungkin telah melarikan diri ke luar Tigray.

Ada juga Unit Kesehatan Darurat Save the Children yang menyediakan bantuan layanan kesehatan mental dan dukungan psikososial untuk korban kekerasan seksual dan anak-anak serta orang yang terkena konflik.