International Humanitarian – Keadaan di Mali Tengah dan Utara saat ini sedang mengalami krisis kemanusiaan yang menyebabkan sekitar 150.000 anak-anak mengungsi. Krisis tersebut juga mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan seperti kesehatan, pendidikan, layanan publik, dan lain-lain.

Dengan adanya COVID-19 semakin memperparah keadaan di sana dan sekolah juga ditutup, sehingga anak-anak sulit mengakses pendidikan bahkan dari rumah.

Karena pendidikan merupakan hal yang penting dan mendasar bagi anak-anak serta hak yang haarus didapatkan semua anak di dunia, maka UNICEF bergerak membantu anak-anak di Mali untuk dapat mengakses pendidikan lagi. Mereka memberikan radio bertenaga surya di daerah yang terkena dampak konflik kepada rumah tangga dan kelompok pendengar yang rentan.Radio tersebut memberikan secercah cahaya bagi pendidikan anak di Mali.

Berikut ada beberapa cerita dari anak-anak di Mali yang sangat terbantu dengan adanya radio bertenaga surya.

 

Aichata

Aichata berusia 15 tahun yang awalnya bersekolah di Diabaly, sebuah kota pedesaan di wilayah tengah-selatan Ségou. Beberapa bulan setelah sekolah Aichata ditutup, ayahnya memutuskan bahwa keluarganya harus pindah ke kota Ségou, di mana dia terdaftar di sekolah Adama Dagnon. Sekolah memberinya radio bertenaga surya agar dia dan teman-teman dapat terus belajar di luar jam kerja dan mengganti waktu yang hilang. Hasilnya Aichata mendapatkan nilai yang bagus di sekolah.

 

Makono

Kemudian ada Makono berusia 13 tahun yang juga bersekolah di sekolah Adama Dagnon. Orang tuanya meninggalkan wilayah selatan Koulikoro, sekitar 200 kilometer jauhnya, setelah serangan bersenjata memaksa mereka mengungsi di Ségou. Dida dan saudara perempuannya juga sangat terbantu dengan adanya program pendidikan yang disiarkan melalui radio yang dibagikan UNICEF.

Program dari UNICEF ini terus dipantau dan dievaluasi. Sampai sekarang sudah ada 1.500 rumah tangga di Ségou yang merasakan manfaat dari adanya radio bertenaga surya. UNICEF bersama beberapa partner juga mengunjungi rumah-rumah di sana untuk memantau apakah radionya benar-benar dipakai dan bermanfaat bagi kemajuan pendidikan anak-anak. Sekarang kekhawatiran anak-anak Mali putus sekolah dan tidak bisa meraih cita-cita sudah bisa sedikit demi sedikit teratasi.