International Humanitarian – Konflik di Cabo Delgado, Mozambik, menyebabkan sebagain besar anak-anak mengalami krisis mental. Mereka terus menangis dan kehilangan keinginan untuk makan dan bermain.

Beberapa anak-anak tersebut berusia kurang dari 10 tahun dan telah menyaksikan kekerasan yang mengerikan, termasuk pembunuhan orang tua mereka.

Inilah beberapa kisah mereka yang dicatat oleh Save The Children.

Clara

Clara kehilangan ayahnya dalam konflik tersebut. Ia, ibu, dan adik-adiknya melarikan diri dari rumah dan bersembunyi di semak-semak jauh dari rumah mereka agar tidak menjadi incaran. Clara dengan keluarga yang tersisa sangat ketakutan setelah kejadian tragis tersebut.

 

Emerson

Ibu dan ayah Emerson dibunuh dengan dipenggal kepalanya. Emerson dan kakak laki-lakinya melarikan diri ke kamp transit. Kemudian Save the Children menyatukan kembali Emerson dan saudaranya dengan nenek mereka Sofia.

Neneknya pun sangat shock terhadap kejadian ini. Mereka sekeluarga melarikan diri sesaat sebelum ayah dan ibu Emerson dibunuh. Di desa tersebut, semua warga ketakutan dan mengubur mayat yang ada hanya pada kedalaman 1 meter karena terburu-buru. Mereka hanya bisa menggali dengan cepat sebelum ada penyerangan kembali.

 

Milton

Milton kehilangan ibunya. Ayahnya masih hilang entah dimana. Di kamp transit, Milton kembali dipertemukan dengan neneknya yaitu Adelia.

Beliau mengatakan bahwa selama dua hari Milton terus menangis, karena tidak bisa melihat ibunya untuk selama-lamanya, serta belum bisa bertemu ayahnya. Dia sangat tertekan.

Save the Children di sana hadir memberikan pertolongan pertama berupa dukungan kesehatan mental, termasuk membantu mereka membangun kembali rutinitas dan kegiatan yang sesuai dengan usia.

Country Director Save the Children di Mozambik, mengatakan bahwa para penjahat disana menggunakan cara-cara yang membuat anak-anak ketakutan sampai hari ini. Maka dari itu, melihat situasi anak-anak tidak kondusif dengan krisis mental, Save the Children sangat memperhatikan kesejahteraan dan pemulihan mereka. Sedikitnya ada 364.000 anak yang mengungsi akibat konflik ini. Semua anak yang mengungsi memiliki rasa trauma untuk kembali ke rumahnya, karena terbayang-bayang akan konflik yang sedang terjadi.