International Humanitarian – Yaman merupakan salah satu negara konflik di dunia. Pertempuran antara kaum pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi dengan kaum Houthi, kontra pemerintah sudah berlangsung sejak enam tahun yang lalu. Perang Yaman yang sudah berlangsung sejak lama ini sangat mempengaruhi ekonomi Yaman dan menjadikan negara ini sebagai salah satu negara Arab termiskin di dunia.

Gencatan senjata akhir-akhir ini kembali terjadi dan sangat meresahkan warga Yaman. Bahkan salah stu badan PBB yaitu UNICEF memprediksi sekitar lebih dari dua juta naak-anak di Yaman akan mengalami kelaparan. UNICEF melaporkan bahwa ada peningkatan sekitar 20 persen anak usia di bawah lima tahun yang akan kekurangan gizi. Diperkirakan juga tahun ini sekitar 1,2 juta ibu hamil atau menyusui di Yaman juga mengalami kekurangan gizi.

Sudah banyak sekali dana PBB yang digelontorkan untuk membantu korban perang di Yaman. Situasi darurat antara Perang Yaman dan COVID-19 yang juga parah di negara ini, membuat bantuan yang diberikan harus semakin ditingkatkan. Mengatasi perang yang tak kunjung usai di Yaman, PBB merespon bahwa sebenarnya sudah tidak memiliki cukup dana untuk bantuan. Dana tanggap darurat yang dibutuhkan Yaman sangat besar, dapat dikatakan yang tertinggi di dunia.

Saat ini UNICEF sudah mengajukan dana sebesar 461 juta dolar AS (sekitar Rp6,6 triliun), namun hnay 39 persen yang dipenuhi. Kemudian juga diajukan dana sebesar 53 juta dolar AS (sekitar Rp761 miliar) untuk dana bantuan Covid-19, namun hanya didanai PBB sebesar 10 persen. Sistem kesehatan di Yaman sekarang sudah sangat buruk, bahkan jika dilihat ke belakang sebelum COVID-19 merebak, sudah banyak penyakit yang menghantui warga Yaman seperti demam berdarah dan malaria. Solusi terbaik yang disarankan seluruh dunia adalah menghentikan Perang Yaman yang masih terus memanas.