International Humanitarian – Indonesia bagian timur sedang dilanda duka, banjir dan longsor di bagian Nusa Tenggara Timur semakin memperparah keadaan dan menelan korban jiwa. Semua usia merasakan dampak dari adanya bencana alam ini.

Anak-anak di sana juga terhambat kegiatan belajarnya. Sekitar 100.000 anak di tiga kabupaten di sana seharusnya sedang menghadapi ujian, namun mereka terganggu oleh banjir bandang dan tanah longsor, yang menyisakan koran jiwa dan mereka pun banyak yang harus mengungsi.

Kurang lebih sekitar 2.000 rumah di Provinsi Nusa Tenggara Timur hancur akibat banjir, dan 72 orang dilaporkan hilang. Aksi penyelamatan seringkali terhambat karena pemadaman listrik, pemblokiran jalan, kurangnya jaringan internet, dan tanah longsor yang terus-menerus terjadi.

Dengan pemadaman listrik dan internet di sana, ujian anak-anak jadi terganggu, karena sekolah belum juga tatap muka karena COVID-19, sehingga keadaan anak-anak di sana agak kacau.

Salah satu lembaga sosial di Indonesia, Save the Children turut membantu bencana alam yang terjadi di NTT dan prihatin terhadap keadaan anak-anak di sana.

Menurut data dari Save the Children, banyak anak-anak yang sudah bersiap untuk mengikuti ujian, namun listrik dipadamkan sehingga sulit sinyal untuk ujian, dan pihak sekolah juga tidak memberikan info.

Bencana di NTT ini menambah deretan bencana yang sudah dialami Indonesia selama masa COVID-19, sudah lebih dari 1.000 keadaan darurat karena banjir, badai, dan tanah longsor di Indonesia.

Anak-anak tidak hanya kesulitan dalam mengakses pendidikan, tetapi mereka juga sedang menghadapi tekanan, kehilangan, cemas akan keselamatan dirinya dan keluarga. Ditambah lagi dengan adanya virus COVID-19 yang membahayakan.

Maka dari itu Save the Children telah memberikan bantuan langsung untuk masyarakat yang berada di tempat pengungsian. Bantuan berupa selimut dan perlengkapan kebersihan dibagikan secara merata. Tidak hanya itu, teman-teman dari Save the Children juga memberikan semangat, dukungan mental bagi anak-anak yang menjadi korban bencana alam di NTT.