International Humanitarian – Pandemi COVID-19 merubah segala aspek kehidupan kita, bahkan banyak dampak buruk yang terjadi dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Banyak sekali tragedi yang terjadi di masyarakat contohnya adalah meningkatnya angka putus sekolah bagi anak-anak Indonesia di masa pandemi COVID-19.

Sekarang, kasus COVID-19 di Indonesia pun masih terus tinggi dan angka kematian uga terus mengancam. Walaupun vaksin sudah dikeluarkan masih belum bisa membendung penyebaran virus COVID-19.

Menurut survey yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), semenjak COVID-19 dan kegiatan belajar mengajar berpindah sistem menjadi online, jumlah anak yang berhenti sekolah terus meningkat.

Ada banyak sekali faktor atau alasan mengapa anak-anak banyak yang putus sekolah. Namun pemicu utamanya sudah pasti karena tuntutan ekonomi yang semakin berat. Berbagai macam pengaduan orang tua telah diterima oleh KPAI. Biasanya yang dilaporkan atau dikeluhkan adalah pembayaran SPP di sekolah swasta yang berat. Banyak masyarakat yang menginginkan adanya keringan yang lebih besar lagi untuk pembayaran SPP karena pembelajaran juga dilakukan secara daring serta pendapatan keluarga yang memang menurun karena adanya pandemi.

Beberapa provinsi yang paling sering menerima pengaduan adalah DKI Jakarta sebesar 45,2%, Jawa Barat 22,58%,  Banten 9,67%, Jawa Tengah 6,45%, Lampung 3,22%, Sumatera Utara 3,22%, Sulawesi Selatan 3,22%, Riau 3,22%, dan Bali 3,22%. Semua kasus yang diadukan selalu ditangani dengan baik melalui bantuan Dinas Pendidikan di daerah masing-masing.

Dengan dilakukannya belajar dari rumah atau daring atau pembelajaran jarak jauh juga menjadi kendala bagi banyak siswa dan orang tua. Sistem belajar online, memaksa siswa untuk memiliki perangkat yang memadai serta kuota internet yang cukup besar untuk terus mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Ada banyak siswa yang tidak memiliki perangkat memadai, kemudian tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh selama berbulan-bulan, sehingga tertinggal dari murid-murid lainnya.

Sayangnya, dengan keterbatasan ekonomi membuat mereka terpaksa berhenti sekolah, karena sangat sulit memenuhi hal tersebut. Kuota internet yang mahal harus dibeli dengan uang yang pas-pas-an, membuat hal ini sangat membebani para orang tua.

Melihat keadaan yang sulit, beberapa siswa memilih untuk berhenti sekolah di masa pandemi. Sebagian ada yang bekerja sambilan atau membantu usaha orang tua, namun sebagian juga ada yang memilih untuk menikah di usia dini.

Anak-anak bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Beberapa orang tua juga sudah tidak memiliki karyawan karena tidak sanggup membayar gaji di masa pandemi, maka dari itu sang anak membantu orang tuanya. Kemudian bagi yang memilih menikah, mungkin mereka dijodohkan atau memang berusaha untuk tidak merepotkan kedua orang tua.