International Humanitarian – Bagi anak, keluarga merupakan fondasi hubungan dan gambar diri yang paling penting, karena semuanya bermula dari hadirnya keluarga. Keharmonisan suatu keluarga pasti berdampak besar bagi kepribadian setiap anggota keluarga. Namun, terkadang tidak semua orang memiliki keharmonisan dalam keluarga. Ada banyak pasangan yang memutuskan untuk berpisah atau bercerai karena banyak hal, bahkan setelah memiliki anak pun belum bisa menjadi pengikat antara kedua belah pihak. Lalu bagaimana dampak perceraian atau perpisahan bagi anak yang ditinggalkan ? Berikut beberapa dampak yang biasanya terjadi.

 

1. Hilangnya Kasih Sayang

Pertama, setelah bercerai, anak pasti akan merasa kehilangan kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuanya. Cinta dan kasih sayang merupakan fondasi penting bagi pribadi setiap kita. Pasti ada peran salah satu ornag tua yang tergantikan dan itu tidak bisa digantikan oleh apapun. 

 

2. Trauma Berhubungan dengan Orang Lain

Dampak yang pertama adalah akan munculnya rasa trauma di kemudian hari saat ingin berhubungan dengan orang lain. Hal ini terjadi karena pengalaman di masa lalu yang buruk sehingga membuat sang anak ragu dan takut menjalani hubungan bahkan hingga berkeluarga, akrena sudah memiliki gambaran yang buruk mengenai hubungan dan arti keluarga.

 

3. Malu

Yang kedua adalah munculnya perasaan malu dan rendah diri. Perpisahan kedua orang tua pasti membawa rasa tidak nyaman bagi anak. Biasanya perceraian yang berantakan pasti akan mengakibatkan sang anak malu di lingkungan sosialnya karena berbeda dengan anak-anak yang lain. Hal ini bisa menyebabkan anak sulit bergaul dengan dunia luar, karena lebih baik orang lain tidak mengetahui keadaan keluarganya. Akibat dari malu adalah anak akan kurang percaya diri.

 

4. Perilaku Negatif

Selain berdampak bagi perasaan, perceraian orang tua dapat mempengaruhi perilaku anak. Kekecewaan dan kemarahan anak kepada orang tua dan situasi yang sulit dapat mengakibatkan anak berperilaku negatif. Keluarga yang berantakan bisa memperburuk perkembangan sikap anak dan melampiaskan pada hal-ha negatif yang dirasa dapat menghibur dirinya, contohnya pergaulan yang buruk, menjadi trouble maker di sekolah, atau justru dilampiaskan ke hak-hal yang sifatnya candu.