International Humanitarian – Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang sangat terdampak oleh virus COVID-19, dengan tingkat penyebaran cukup tinggi. Varian Delta yang menyebar dengan cepat, ditambah dengan peluncuran vaksin yang lambat di sebagian besar wilayah, telah membuat kasus melonjak sekitar 37% selama seminggu terakhir menjadi 127.000 kasus setiap hari.

Banyak sekali yang terdampak virus COVID-19, mulai dari kehilangan saudara, mata pencaharian, kehilangan kesempatan, dan masih banyak lagi. Maka dari itu Save The Children juga turut prihatin akan dampak dari COVID-19 di Asia Tenggara.

Seorang dokter memberikan saran untuk menangani COVID-19 di Asia yaitu :

“COVID-19 menyebar seperti api di Asia Tenggara, dan yang terburuk masih belum datang. Asia Tenggara adalah salah satu daerah yang paling sedikit divaksinasi di dunia, sehingga memiliki kemungkinan hal-hal yang lebih buruk akan terjadi.

“Pakar epidemiologi memprediksi bahwa akan ada 2,3 juta orang di Asia Tenggara yang terinfeksi virus COVID-19 dan terdapat 4.500 kematian setiap hari, dengan lebih dari setengah dari semua infeksi dan kematian terjadi di Indonesia. Situasi tampaknya akan semakin memburuk di negara-negara lainnya seperti Thailand dan Filipina, karena para pakar memperkirakan bahwa, puncaknya, kasus baru setiap hari di negara-negara di Asia Tenggara terhitung sebanyak 75.000 hingga awal Agustus.

JIka dilihat dari data, hingga saat ini, anak-anak menjadi korban tersembunyi dari pandemi ini. Tidak hanya di Indonesia yang ditemukan banyak anak-anak terserang COVID-19, namun di beberapa negara yang lain juga seperti itu. Memprihatinkannya lagi tidak hanya mnegenai penyebaran virus, namun pada situasi genting seperti ini, anak-anak banyak yang tidak mendapatkan cukup nutrisi untuk tubuh mereka. Anak-anak di bawah 12 tahun pun belum bisa mendapatkan vaksin, bahkan yang berumur 12 tahun hingga 17 tahun pun belum merata didistribusikan.

Melihat kondisi yang memprihatinkan, Save the Children menyerukan tindakan bersama yang mendesak untuk menutup kesenjangan vaksin global antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin, dengan memastikan negara-negara memiliki akses ke vaksin melalui COVAX dan berbagi pengetahuan, informasi, dan teknologi yang dibutuhkan bagi negara-negara untuk memproduksi vaksin itu sendiri.