International Humanitarian – Keadaan di Afghanistan saat ini sangat memprihatinkan. Ada sekitar 80.000 anak-anak di Afghanistan yang meninggalkan rumah sejak awal Juni saat kekerasan melanda sebagian negara mereka.

Anak-anak tersebut mengungsi dengan keluarga mereka di dalam terpal dan dialasi dengan beberapa permadani, makan roti, dan minum minuman energi untuk bertahan hidup.

Menurut data PBB, ada sekitar 130.000 orang harus meninggalkan rumah dan desa mereka dalam dua bulan terakhir, 60% di antaranya adalah anak-anak. Provinsi Kunduz Utara telah menjadi rumah bagi pengungsi, lebih dari 60.300 tinggal dalam kamp darurat di sana.

Melihat situasi tersebut, Save the Children mengkhawatirkan bahwa anak-anak tersebut sangat berisiko mengalami kekurangan gizi yang parah karena situasi konflik ditambah dengan mewabahnya COVID-19 dan kekeringan yang terjadi di sana.

Kelaparan di Afghanistan merupakan yang dua yang tertinggi di dunia, setengah dari semua anak balita diperkirakan menderita kekurangan gizi akut tahun ini dan membutuhkan perawatan khusus agar mereka bisa bertahan hidup.

Di Afghanistan, pusat perawatan untuk anak-anak yang kekurangan gizi sudah ditambah akhir-akhir ini, namun masih banyak, hampir ratusan ribu anak di sana belum bisa mengakses perawatan kesehatan. Anak-anak yang terlantar di Afghanistan juga berpotensi dipaksa untuk menikah muda atau kerja paksa di bawah umur.

Pihak Save the Children menyatakan bahwa anak-anak di Afghanistan tidak hanya hidup dalam kondisi yang mengerikan di kamp-kamp pengungsian, melainkan banyak juga anak-anak yang terbunuh atau terluka dalam baku tembak konflik, serta penghancuran sekolah dan fasilitas kesehatan.Peristiwa ini dirasa dianggap penting untuk ditangani bersama oleh komunitas internasional agar ke depannya tidak terjadi hal yang sama di Afghanistan.

Save the Children menyerukan agar semua pihak dapat membant menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil di Afghanistan terutama anak-anak dan menghormati kewajiban mereka di bawah hukum humaniter internasional. Semua upaya harus dilakukan untuk menyepakati penyelesaian damai sehingga generasi anak-anak masa depan dapat tumbuh di negara yang bebas dari ketakutan akan kekerasan, kematian, dan cedera.