Konflik di Myanmar Memanas, China Siap Ambil Peran

International Humanitarian – Konflik yang terjadi di Myanmar baru-baru ini sangat meresahkan warga dunia. Kudeta yang didasari oleh klaim militer tentang adanya kecurangan daftar pemilih dalam pemungutan suara tanpa bukti yang jelas telah merugikan dan menewaskan beberapa korban jiwa.

Tidak hanya orang dewasa saja yang terkena dampaknya, namun anak-anak juga dikabarkan ada yang merenggut nyawa akibat aksi para demonstran. Gencatan senjata yang terjadi antara demonstran dan pasukan keamana  justru menjadi masalah kemanusiaan yang baru.

Menurut data yang ada, tanggal 3 Maret 2021 ada sekitar 15 orang yang terbunuh oleh pasukan keamanan. Banyak sekali anak-anak dan remaja yang terluka hingga trauma akibat konflik yang terjadi di sana. Sejumlah besar anak terluka, dan anak-anak juga menderita efek gas air mata yang bocor ke rumah mereka.

Save the Children dan mitranya memberikan dukungan kepada anak-anak yang telah dirugikan dan keluarganya jika memungkinkan, melalui rujukan, manajemen kasus perlindungan anak, dan dukungan psikososial. Karena ketidakamanan dan pembatasan COVID-19 yang sedang berlangsung, banyak pekerjaan ini harus dilakukan dari jarak jauh. Terlepas dari upaya terbaik kami, kami tahu bahwa banyak anak tidak menerima dukungan yang sangat mereka butuhkan saat ini.

  • Minggu, 28 Februari: seorang anak laki-laki berusia 17 tahun, ditembak di kepala dan meninggal di Bago.
  • Selasa, 2 Maret: seorang anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal karena luka tembak di Taung Twin Gyi, Magway. Menurut laporan para saksi, dia ditembak mati oleh seorang tentara dalam konvoi tiga truk militer yang lewat, setelah itu tentara tersebut membawa tubuhnya dan pergi.
  • Rabu, 3 Maret: seorang anak laki-laki berusia 14 tahun di Myin Gyan ditembak mati menurut sumber-sumber lokal, dan seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dilaporkan tewas di Monywa.

Efek psikososial pada anak-anak dari kekerasan ini sangat mengkhawatirkan, akan lebih banyak lagi anak-anak yang menderita ketakutan, stres, dan kehilangan yang disebabkan oleh tindakan keras yang dilakukan dengan kekerasan. Para orang tua melaporkan bahwa anak-anak mereka mengalami mimpi buruk setelah mendengar granat flashbang dan penembakan.

Dampak jangka panjang dari situasi krisis ini tidak boleh dianggap remeh, banyak anak dan keluarga akan mengalami kesulitan dalam menghadapi kekerasan yang mereka saksikan, yang dapat menyebabkan anak trauma dalam jangka panjang.

Maka dari itu, Save the Children  menyerukan semuanya segera menghentikan kekerasan terhadap anak dan menghormati hak-hak mereka, bahkan sebelum lebih banyak anak terluka.