International Humanitarian – Pandemi COVID-19 membuat meningkatnya angka pekerja anak di Indonesia. Menurut data, 9 dari 100 anak usia 10-17 tahun (9,34 persen atau 3,36 juta anak) adalah pekerja anak. Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan, usia minimum anak bekerja adalah 13 tahun pastinya dengan syarat-syarat yang sangat ketat.

Pada situasi saat ini, ada beberapa dari mereka yang bekerja dalam jangka waktu yang pendek, di luar waktu sekolah, dan tanpa unsur eksploitasi. Namun ada juga yang benar-benar sebagai pekerja anak, yang bekerja sangat intens dan keras hingga mengganggu dan membahayakan kesehatan, keselamatan, dan pertumbuhannya

Peningkatan pekerja anak terjadi pada kelompok umur 10-12 tahun dan 13-14 tahun,sebagian besar dari mereka berada lebih banyak di pedesaan, lebih banyak anak perempuan yang bekerja dibanding pekerja anak laki-laki.

Masalah ekonomi keluarga merupakan pendorong terbesar anak-anak memasuki dunia kerja, bahkan ada anak yang menjadi tulang punggung keluarga,

Pekerja anak berisiko putus sekolah, telantar, dan masuk dalam situasi-situasi yang membahayakan diri sehingga mengancam tumbuh kembang yang maksimal. Menurut data, anak berusia 15-17 tahun yang bekerja kebanyakan sudah tidak melanjutkan pendidikannya lagi.

Krisis ekonomi yang dirasakan seluruh rakyat Indonesia menyebabkan terjadinya berbagai ketimpangan seperti teknologi informasi, sosial, ekonomi, kesehatan, dan lain-lain, sehingga meningkatkan risiko lahirnya banyak pekerja anak. Apalagi didukung dengan pembelajaran jarak jauh yang membuat kesempatan untuk anak-anak di bawah umur terbuka dengan lebih luas.

Permasalah sosial ini harus dihadapi bersama mulai dari pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, akademisi, pakar, media, serta dunia.

Saat ini, Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan Zona Bebas Pekerja Anak dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghapus fenomena pekerja anak. Penghapusan pekerja anak sudah terintegrasi dalam skema Kota/Kabupaten Layak Anak (KLA) yang menjamin pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak secara komprehensif.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah pekerja anak dari rumah tangga miskin yang putus sekolah ditarik ke tempat kerja. Menurut pengurus, Program tersebut telah berhasil menarik pekerja anak dari tempat kerja sebanyak 143.456 anak. Anak-anak yang berhasil ditarik, kemudian ditempatkan di shelter dan diberi pendampingan.