International Humanitarian – Saat KTT G7, Save the Children merilis serangkaian foto untuk menyoroti krisis pendidikan yang menghancurkan gadis-gadis di garis depan konflik Sahel Tengah, Afrika.

Gambar yang tertangkap menyiratkan kisah kehilangan dan kesedihan, selain itu juga kekuatan, ketahanan, dan harapan para gadis untuk masa depan.

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan darurat pendidikan terbesar di dunia. Sekitar 90% anak-anak di seluruh dunia putus sekolah, terdiri dari hampir 743 juta anak perempuan. Sebuah studi oleh UNESCO menunjukkan bahwa 11 juta anak perempuan berisiko tidak kembali ke sekolah.

Di negara-negara yang terkena dampak konflik, anak perempuan dua kali lebih berisiko putus sekolah. Selain itu, mereka juga menghadapi risiko putus sekolah, kehamilan remaja, dan kawin paksa.

Menurut data dari Save the Children, karena melemahnya ekonomi akibat pandemi, sekitar 2,5 juta anak perempuan berisiko menikah muda pada tahun 2025 dan ada 1 juta lebih remaja yang hamil di tahun 2020.

Di Sahel Tengah, lebih dari 4000 sekolah ditutup karena serangan dari kelompok bersenjata pada tahun 2020. Di Niger dan Mali, lebih dari separuh anak perempuan di sekolah dasar tidak melanjutkan ke pendidikan menengah. Di Burkina Faso, hanya 1% anak perempuan yang menyelesaikan sekolah menengah.

Di 3 negara Afrika tersebut, semuanya memiliki rata-rata tertinggi untuk pernikahan anak di bawah umur, seperti di Niger, sepertiga dari anak-anak menikah sebelum 15 tahun dan tiga perempat pada usia 18 tahun.

Cerita Mereka

Dioura

Dioura berusia 12 tahun, dipaksa meninggalkan rumahnya ketika gerilyawan bersenjata menyerang desanya. Sekolahnya dibakar selama pertempuran dan dia sekarang tinggal di sebuah kamp pengungsian bersama keluarganya. Walaupun kehidupan di kamp sulit, Dioura tetap kembali ke sekolah untuk menyelesaikan studinya.

Kadidia

Ada juga cerita dari Kadidia, usianya 14 tahun. Dia berasal dari Mali yang kemudian melarikan diri karena sekolah-sekolah ditutup oleh kelompok bersenjata. Sekarang Kadidia tinggal bersama bibinya dan dapat melanjutkan pendidikan.

Untuk mengatasi keadaan darurat pendidikan tersebut, Save the Children menyerukan kepada para pemimpin G7 dan pemerintah lainnya untuk membuat sebuah dobrakan bantuan pendidikan sebesar $5 miliar untuk lima tahun ke depan.

Selain itu, Save the Children juga menghimbau Pemerintah Pusat untuk meningkatkan anggara  untuk pendidikan.

Menteri pendidikan perlu menyusun strategi yang jelas untuk membawa semua anak kembali ke sekolah tepat pada waktunya untuk meningkatkan pendidikan mereka.

Semua pihak juga berharap agar vaksin COVID-19 dapat segera didistribuskan dengan baik dan menyeluruh di seluruh dunia.