International Humanitarian – Tren pernikahan paksa di Afrika Timur Tengah dan Utara sangat membahayakan perempuan di sana. Mereka terpaksa melakukan itu karena kemiskinan yang melanda karena COVID-19. Pernikahan paksa disini pun hanya berlangsung sebentar sekitar 1 minggu, seperti pernikahan kontrak, hanya untuk kesenangan penggunannya saja.

Save the Children ingin menyuarakan hal tersebut di Forum Kesetaraan Generasi di Paris. Orang tua disana juga tidak punya pilihan selain menerima lamaran pernikahan untuk anak perempuan mereka, karena membutuhkan imbalan uang untuk menyambung hidup.

Mengapa hal ini sering sekali terjadi? Salah satu faktornya selain kemiskinan adalah lemahnya Undang-Undang  yang berada di daerah Lebanon, Mesir, Turki, dan Irak membuat anak-anak kurang dilindungi. Ada beberapa konteks dalam Undang-Undang yang memungkinkan terjadinya eksploitasi anak perempuan.

Di Irak, berdasarkan agama dilarang untuk menikah hanya untuk kesenangan, namun jika bisa memberikan sedikit uang, maka pernikahan bisa dilanjutkan. Kemudian di Mesir, juga sering terjadi pernikahan musim panas atau turis. Gadis-gadis dipaksa menikahi orang asing yang sedang melakukan perjalanan ke negara tersebut. Dalam hukum Turki, usia minimum untuk menikah adalah 18 tahun, tetapi anak-anak dapat menikah pada usia 16 tahun dengan izin pengadilan dalam “keadaan luar biasa”.

Cerita Mereka

Najwa

Najwa adalah remaja perempuan dari Suriah yang mengungsi di Mesir. Saat dia berusia 14 tahun, ada seseorang yang datang ke keluarganya untuk meminta menikahi Najwa. Namun, pada saat itu keluarga menolak tawaran tersebut. Di sisi lain, Najwa mengira keluarga menerima permintaan tersebut, sehingga ia menjadi depresi.

Pernikahan turis ini sering terjadi terhadap pengungsi Suriah. Kebanyakan orang tua putus asa dan tidka punya pilihan untuk mneyambung hidup selain menjual anak perempuannya ke dalam pernikahan jangka pendek dengan sejumlah imbalan uang.

Pihak Save the Children untuk Timur Tengah dan Eropa Timur, mengatakan bahwa peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali, melainkan sudah berkali-kali dan membuat banyak anak perempuan trauma. Kejadian menyakitkan tersebut selain melanggar hak asasi manusia tetapi juga menghancurkan pendidikan dan masa depan mereka.

Save the Children menyerukan kepada pemerintah Lebanon, Mesir, Turki, dan Irak untuk menetapkan usia minimum pernikahan hingga setidaknya 18 tahun dan menghapus pengecualian apa pun terhadap aturan ini. Selain itu, juga pernikahan wajib didaftarkan ke pihak sipil, agama maupun adat.