Pendidikan dan Remaja | UNICEF Indonesia

International Humanitarian – Sebanyak 4,4 juta anak-anak dan remaja berusia 7-18 tahun di Indonesia masih tidak bersekolah. Banyak anak-anak yang berisiko putus sekolah, karena tidak ada biaya, menyandang disabilitas, dan bahkan tinggal di daerah tertinggal. Menurut data, angka putus sekolah di Indonesia berkisar antara 1,3%-22%, dan yang tertinggi berada di daerah paling timur Indonesia yaitu Papua.

Selain itu, banyak anak sekolah yang juga harus berjuang untuk menguasai keterampilan akademik dasar seperti membaca dan menulis. Data dari PISA tahun 2015 menyebutkan kurang dari separuh siswa berusia 15 tahun di Indonesia hanya memiliki tingkat kemahiran membaca minimum dan kurang dari sepertiga yang mencapai tingkat kemahiran dalam matematika.

UNICEF bekerja dengan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses terhadap pendidikan dan kualitas pendidikan untuk anak-anak yang paling terpinggirkan, mulai usia 3-18 tahun, termasuk anak-anak dengan disabilitas dan mereka yang berada dalam situasi kemanusiaan.

Mengurangi angka jumlah anak putus sekolah menjadi prioritas utama bagi Indonesia untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-4 pada pendidikan inklusif dan berkeadilan pada tahun 2030.

Program UNICEF Indonesia bersama Australia Aid

PAUD di Papua: Kecil Namun Berarti | UNICEF Indonesia

Namanya Agustina, tinggal di Wamena, Papua. Sekarang dia berada di kelas 3SD. Agustina dan teman-temannya belum lancar membaca. Persentase orang yang tidak bisa membaca di Papua adalah 48%.

Kata Agustina, guru-guru di sana sering tidak masuk, sehingga satu guru harus mengurus beberapa kelas sekaligus. Sekolah di sana juga tidak memiliki koleksi buku bacaan untuk anak seusia Agustina.

Melihat hal tersebut, UNICEF Indonesia hadir membantu anak-anak di sekolah dengan mengajarkan program baru kepada semua guru. Sebuah teknik baru yaitu menggunakan lagu dan alat bantu visual saat mengajar. Sekolah juga mendapatkan bantuan buku bacaan yang sesuai dengan anak-anak Papua. Guru-guru juga didorong untuk menata perpustakaan dan pojok baca agar anak-anak semangat belajar membaca.

Hasilnya sekarang kemampuan baca tulis siswa di sana meningkat.

Hasil program :

Untuk membaca dan memahami, persentase awalnya hanya 6% anak yang bisa membaca sekaligus memahami bacaanya, kemudian setelah 2 tahun meningkat menjadi 18%.

Kemudian untuk angka kemampuan membaca, persentase anak yang tidak bisa membaca turun, awalnya 62%, turun menjadi 27% dalam 2 tahun.

Pendidikan yang terus digalakkan di tingkat masyarakat membuat orang tua di sana juga semakin sadar akan pentingnya literasi. Beberapa orang tua malah ikut belajar membaca, semua orang tua puas dengan program ini. Menurut mereka, sekolah dibangun dengan bagus, anak-anak diajar dengan baik, sehingga semua kalangan pun turut mendukung.

Di sisi guru, hasilnya semua guru lebih percaya diri di kelas. Siswa-siswi nya juga meningkat kemampuan baca tulisnya.

Baca tulis membuat imajinasi Agustina berkembang.